PROSES KREATIF PENYAIR K.H. MUSTAFA BISRI (GUS MUS)
A. Latar Belakang Penyair
1. Biodata
Nama Lengkap : KH.
Mustofa Bisri
TTL :
Rembang, 10 Agustus 1944
Agama : Islam
Jabatan :
Pimpinan Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin,
Kabupaten
Rembang, Jawa Tengah
Istri :
Siti Fatimah
Anak : 1.
Ienas Tsuroiya
2. Kautsar
Uzmut
3. Randloh Quds
4. Rabitul
Bisriyah
5. Nada
6. Almas
7. Muhammad
Bisri Mustofa
Ayah : KH.
Bisri Mustofa
Ibu :
Marafah Cholil
2. Biografi
KH. MUSTOFA BISRI
Alumnus dan penerima beasiswa dari Universitas
Al Azhar Cairo (Mesir, 1964-1970) untuk
studi islam dan bahasa arab ini, sebelumnya menempuh pendidikan di SR 6 tahun
(Rembang, 1950-1956), Pesantren Lirboyo (kediri, 1956-1958), Pesantren Krapyak
(Yogyakarta, 1958-1962), Pesantren Taman Pelajar Islam (Rembang, 1962-1964).
Dilahirkan di Rembang, 10 Agustus 1944, Gus Mus (KH. Ahmad Mustofa Bisri) beruntung dibesarkan dalam keluarga
yang patriotis, intelek, progresif sekaligus penuh kasih sayang. Kakeknya (H. Zaenal Mustofa) adalah seorang saudagar ternama yang
dikenal sangat menyayangi ulama. Dinaungi bimbingan para kiai dan keluarga yang
saling mengasihi, yatim sejak masih kecil tidak membuat pendidikan anak-anak H.
Zaenal Mustofa terlantar dalam pendidikan mereka. Buah perpaduan keluarga H.
Zaenal Mustofa dengan keluarga ulama bahkan terpatri dengan berdirinya “Taman Pelajar Islam” (Roudlatuth Tholibin), pondok pesantren yang kini diasuh Gus
Mus bersaudara. Pondok ini didirikan tahun 1955 oleh ayah Gus Mus, KH. Bisri Mustofa. Taman Pelajar Islam secara fisik dibangun diatas tanah
wakaf H. Zaenal Mustofa, dengan pendiri dan pengasuh KH Bisri Mustofa sebagai
pewaris ilmu dan semangat pondok pesantren Kasingan yang terkemuka diwilayah
pantura bagian timur waktu itu, dan bubar pada tahun 1943 karena pendudukan
Jepang. KH. Bisri Mustofa sendiri adalah menantu KH. Cholil Harun, ikon ilmu keagamaan (Islam) di wilayah
pantura bagian timur (Anshari, et.al.,2005: 34). Ayah Gus Mus sangat
memperhatikan pendidikan anak-anaknya, lebih dari sekedar pendidikan formal.
Meskipun otoriter dalam prinsip, namun ayahnya mendukung anaknya untuk
berkembang sesuai dengan minatnya.
Menikah dengan Hj.
Siti fatmah (1971), mereka
dikaruniai 7 anak (6 putri, 1 putra bernama M.
Bisri Mustofa), dan 13 cucu. Yang semakin langka dalam keluarga masa kini,
namun nyata berlangsung dalam keluarga Gus Mus adalah hubungan saling
menghormati, saling menyayangi diantara sesama anggota keluarga. Sebagai
ilustrasi, kiprah sang ayah di dunia politik (Anggota Majelis Konstituante,
1955; Anggota MPRS, 1959; Anggota MPR, 1971), tidak dengan sendirinya membuat
Gus Mus tertarik kepada dunia politik. Jika akhirnya Gus Mus terjun juga ke
dunia politik (1982-1992 anggota DPRD Jawa Tengah; 1992-1997 Anggota MPR RI)
itu lebih karena pertimbangan tanggung jawab yang tak bisa dielakkannya,
mengingat kapasitas-kapasitasnya. Dengan mengambil sikap-sikap politik yang
sulit, Gus Mus sangat memperhitungkan restu keluarganya, terutama ibundanya Hj. Ma’rufah, selain istri dan anak-anaknya.
Disiplin dalam
menulis
KH. Bisri Mustofa penulis Tafsir
al-ibris yang masyhur, di
zamannya termasuk ulama ‘nyeleneh’ karena bekerja sebagai penulis. Beliau
dikenal kemampuannya menerjemahkan kitab-kitab klasik berbahasa Arab menjadi
bacaan indah sekaligus mudah dipahami.
Produktivitas menulis keluarga ulama ini, khususnya
produktivitas kepenulisan KH. Bisri Mustofa dan KH. Misbach Mustofa (keduanya putra H. Zaenal Mustofa)
baik dalam bahasa Indonesia, Jawa maupun bahasa Arab mendorong inovasi
diadakannya pelatihan menulis dalam bahasa Indonesia dan menerjemahkan kitab
dalam bahasa Indonesia bagi para santri Taman Pelajar Islam (1983) yang
diprakarsai adik Gus Mus KH M.
Adib Bisri. Ketika itu kemampuan
menulis dalam bahasa Indonesia rata-rata santri sangatlah minim.
Gus Mus sendiri bersama kakaknya KH M. Cholil Bisri, sejak muda mempunyai kebiasaan menulis
sajak dan saling berlomba untuk dipublikasikan. Gus Mus yang suka membaca sejak
masa kanak-kanak, tulisannya sejak remaja sudah banyak dimuat berbagai mdia
masa termasuk Kompas (Kompas Minggu 9 Januari 1997:2). (Untuk
menghindarkan diri dari ‘bayang-bayang’ nama besar ayahnya, Gus Mus pernah
menggunakan nama M. Ustov Abi Sri sebagai pseudonimnya). Pentas baca
puisinya yang pertama (1980-an) telah menuai banyak pujian dan Gus Mus segera
dikukuhkan kehadirannya sebagai “bintang baru’ dalam dunia kepenyairan
Indonesia. Ia menjadi satu-satunya penyair Indonesia yang menguasai sastra Arab
(bukan sekedar terjemahannya). Kini sajak-sajak Gus Mus terpampang hingga
ruangan kampus Universitas
Hamburg (Jerman). Tulisannya
tersebar luas diantaranya bisa kita baca di Intisari,
Horison, Kompas, Tempo, Detak, Editor, Forum, Humor, DR, Media Indonesia,
Republika, Suara Merdeka, Wawasan, Kedaulatan Rakyat, Bernas, Jawa Pos, Bali
Pos, Duta masyarakat (Baru), Pelita, Panji Masyarakat, Ulumul Qur’an, Ummat,
Amanah, Aula, Mayara. Pada
majalah Cahaya Sufi (Jakarta), MataAir (Jakarta), MataAir
(Yogyakarta), Almihrab (Semarang) Gus Mus duduk sebagai
Penasehat.
Karena dedikasinya dibidang sastra, Gus Mus banyak
menerima undangan juga dari berbagai negara. Bersama Sutardji Colzoum bachri,
Taufiq Ismail, Abdul hadi WM, Leon Agusta, Gus Mus menghadiri perhelatan puisi
di Baghdad (Iraq, 1989). Masyarakat dan mahasiswa
Indonesia menunggu dan menyambutnya di Mesir,
Jerman, Belanda, Perancis, jepang, Spanyol, Kuwait, Saudi Arabia (2000). Fakultas Sastra Universitas Hamburg, mengundang Gus Mus untuk sebuah
seminar dan pembacaan puisi (2000). Universitas
Malaya (Malaysia) mengundangnya
untuk seminar Seni dan Islam. Sebagai cerpenis, Gus Mus menerima penghargaan
“Anugerah Sastra Asia” dari
Majelis Sastra (Mastera, Malaysia, 2005).
Membaca sajak saat berdakwah, bukan hal baru di
kalangan pesantren. Tapi, membaca sajak sebagaimana dilakukan Gus Mus dengan
sajak-sajak mbeling atau ‘puisi balsem’ (balsem adalah
obat gosok penghilang pening)-nya, memang baru Gus Mus yang memulai (Kompas Minggu, 9 Janurai 1997: 2).
Sajak-sajak Gus Mus menjadi medium bagi Gus Mus untuk mengkomunikasikan
berbagai situasi sosial yang aktual dengan para santri/asudiens-nya. Dengan
bangkitnya keingintahuan santri dan para audiens, terbukalah dialog sehingga
terbuka harapan akan meningkatnya pemahaman yang lebih untung tentang diri
sendiri, sesama, situasi lingkungan dan agama.
Dedikasi Gus Mus di dunia puisi disambut oleh
seniman-seniman lain. Sebuah group band anak muda pernah mengaransir lagu untuk
puisi Gus Mus. Bersama Idris
Sardi Gus Mus menyuarakan
keprihatinannya tentang persatuan bangsa dalam pagelaran karya musik dan puisi
bertajuk “Satu Rasa Menyentuhkan
Kasih Sayang” di Gedung Kesenian
Jakarta, 22 Maret 2006 (Kompas, 23
Maret 2006: 15). Tahun 2008 Gus Mus berkenan menulis lirik lagu diantaranya
berisi parodi tentang bagaimana manusia mempertaruhkan ‘kaki’, ‘kepala’, bahkan
‘dada’ demi sekedar ‘kesenangan (kekuasaan) mempermainkan bola’—utnuk lagu Sawung Jabo (belum dipublikasikan).
Kepedulian Gus Mus yang tercurah media massa
melahirkan konsep ‘MataAir’. Konsep
ini mewadahi mimpinya tentang
media alternatif yang berupaya memberikan informasi yang lebih jernih, yang
pada awalnya merupakan respons atas keprihatinannya terhadap kebebasan pers
yang sangat tidak terkendali (setelah Orde Baru tumbang, 1998). Meski belum
sepenuhnya hadir seperti yang diharapkan Gus Mus, konsep ‘MataAir’ ini akhirnya
terwujud dengan diluncurkannya situs MataAir, gubuk maya Gus Mus di www.gusmus.net (2005), kemudian disusul
penerbitan perdana majalah MataAir jakarta (2007) dan MataAir Yogyakarta
(2007). ‘MataAir’ mempunyai motto: “Menyembah Yang Maha Esa, Menghormati yang
lebih tua, Menyayangi yang lebih muda, mengasisih sesama”.
Masyarakat juga menikmati inovasi lain sebagai buah
dari tradisi menulis keluarga Mustofa ini. Pada pernikahan keempat putrinya,
untuk masing-masing Gus Mus menerbitkan sebuah buku yang dibagikan sebagai
cindera mata bagi para tetamu. Tiga diantaranya Kado pengantin (kumpulan nasehat untuk pengantin yang
ditulis tokoh kiai dan cendekiawan, 1997), Bingkisan
Pengantin (antologi puisi tokoh
penyair, 2002), Cerita-Cerita
Pengantin (kumpulan cerpen yang
ditulis para tokoh cerpenis, 2004).
Disiplin dalam
Berorganisasi dan Berpolitik
Sejak muda Gus Mus adalah probadi yang terlatih dalam disiplin
berorganisasi. Sewaktu kuliah di Al Azhar Cairo, bersama KH Syukri Zarkasi (sekarang Pengasuh Ponpes Modern
Gontor Ponorogo, Jawa Timur), Gus Mus menjadi pengurus HIPPI (Himpunan Pemuda
dan Pelajar Indonesia) Divisi Olah Raga. Di HIPPI pula Gus Mus pernah mengelola
majalah organisasi (HIPPI) berdua saja dengan KH.
Abdurrahaman Wahid (Gus Dur).
Tidak berbeda dengan para kiai lain yang memberikan
waktu dan perhatiannya untuk NU (Nahdlatul Ulama), sepulang dari Cairo Gus Mus
berkiprah di PCNU Rembang (awal 1970-an), Wakil Katib Syuriah PWNU Jawa Tengah (1977), Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, hingga Rais Syuriyah PBNU (1994, 1999). Tetapi mulaitahun 2004, Gus Mus menolak duduk dalam jajaran
kepengurusan struktural NU. Pada pemilihan Ketua Umum PBNU 2004-2009, Gus Mus
menolak dicalonkan sebagai salah seorang kandidat.
Sebagai konsekuensinya, Gus Mus tidak sekedar
‘kehilangan’ kesempurnaan memimpin NU –dalam arti struktural-- namun juga
dialamatkannya tudingan bahwa ia sekadar tokoh ‘lemah’, ‘ragu-ragu’, ‘tidak
tegas’, ‘tidak serius’ terhadap –bahkan ‘cuci tangan’ dari persoalan-persoalan
NU (Anshari, et.al., 2005: 114). Sementara bagi Gus Mus, dengan ‘berada di luar
orbit’, ia justru bisa ‘menjadi kiai umat tanpa membedakan latar belakang,
warna pakaian dan politik’ (idem: 97). “Saya harus bisa mengukur diri sendiri.
Mungkin lebih baik saya tetap berada di luar, memberikan masukan dan kritikan
dengan cara saya,” jelasnya (Khairina & Kristanto, 2004: 16 kolom 4).
“Kalau saya biasanya mendoa, ya saya akan mendoa. Kalau semua orang misalnya
mau mengukur dirinya sendiri, insya Allah baik bagi dirinya, baik juga bagi
umat”.
Pada periode kepengurusan NU 2010 – 2015, hasil
Muktamar NU ke 32 di Makasar Gus Mus diminta untuk menjadi Wakil Rois Aam
Syuriyah PBNU mendampingi KH.
M.A. Sahal Mahfudz. Pada bulan
Januari tahun 2014, KH M.A. Sahal Mahfudh menghadap kehadirat Allah, maka
sesuai AD ART NU, Gus Mus mengemban amanat sebagai Pejabat Rois Aam hingga
muktamar ke 33 yang berlangsung di Jombang Jawa Timur. Pada muktamar NU di
Jombang, Muktamirim melalui tim Ahlul
Halli wa Aqdi, menetapkan Gus Mus
memegang amanat jabatan Rois Aam PBNU. Namun Gus Mus tidak menerima Jabatan
Rois Aam PBNU tersebut dan akhirnya Mukatamirin menetapkan Dr. KH. Ma’ruf Amin menjadi Rois Aam PBNU periode
2015-2020.
Berdisiplin dalam memelihara rasa tanggung jawab, juga
membuat Gus Mus bergeming terhadap godaan kursi empuk kekuasaan struktural di
dunia politik. Tidak seperti kebanyakan politikus dengan segala daya dan cara
merebut mendapatkan dan mempertahankan kedudukannya, Gus Mus pernah menolak
duduk kembali di kursi legislatif. Meskipun pencalonannya sudah di tetapkan,
beliau memutuskan mundur dari pemilihan sebagai ‘wakil rakyat’. Alasan beliau,
karena ragu bisa mempertanggungjawabkan posisinya jika terpilih. Berdasarkan
pengalaman sebelumnya, Gus Mus merasa apa yang bisa diberikannya kepada rakyat
tidak sebanding dengan apa yang diterimanya dari rakyat (Khairina dan
Kristatnto, 2004: 16).
Termasuk disipilin dalam berpolitik, Gus Mus juga
selalu terlalu arif untuk membawa kelompok maupun kepentingan dirinya sendiri.
Mantan Pemimpin Redaksi tabloid Detik Eros Djarot menyatakan bahwa sebagai
Kiai, Gus Mus tidak bernafsu ‘mengolah’ para pendukung, simpatisan dan
santrinya menjadi sekadar alat perjuangan politk demi kekuasaan. Ada pula yang
mencatat bahwa menjelang Pemilu 1987, melalui KH Sahal Mahfudz (senior Gus Mus di kepengurusan
struktural NU) seorang kader parpol gagal membujuk Gus Mus menjadi direktur
sebuah perusahaan yang akan didirikan sang kader bersama kelompoknya. Gus Mus
bahkan rela mengurungkan ralisasi impiannya memiliki percetakan untuk
menerbitkan sndiri karya-karyanya ketika mengetahui dananya berasal dari sumber
yang sama (Asma et.al., 2005: 85-86)
Dalam dunia politik, pemihakan Gus Mus selalu jelas
dan konsisten: yakni kepada rakyat yang selalu terpinggirkan. Sebagai Anggota
Dewan misalnya (1982-1992 Anggota DPRD Jawa Tengah; 1992-1997 Anggota MPR RI),
untuk mendengarkan aspirasi rakyat, tidak jarang Gus Mus dengan biaya sendiri
mengadakan kunjungan di luar protokoler biasanya dalam kemasan pengajian dan ini
dilakukan tidak terbatas di wilayah yang menjadi konstituennya. “Suatu
kebiasaan yang berlaku di dewan saat itu adalah masing-masing anggota hanya
mengurus dan mengedepankan kepentingan daerahnya. Tidak ada anggota dewan yang concern terhadap urusan daerah secara
integral,” Kata Gus Mus (Asma et.al.,2005: 80).
Atmosfer di lingkungan legislatif memang tidak cukup
kondusif bagi hati nurani Gus Mus. Gus Mus sampai malu dan menghindar dari
menerima gaji. Seperti kata Gus Mus: “...antara kinerja dan gaji yang diberikan
tidak imbang. Jauh lebih besar gaji yang diterima.” (idem: 82). Puncak
akumulasi ketidakberdayaan Gus Mus di parlemen daerah tertuang dalam Puisi Balsem dari Tunisia (dalam Ohoi, Kumpulan Puisi-Puisi Balsem,
Bisri, 1988, cet.1) (idem:85).
Karena merasa fungsinya tidak efektif, akhirnya Gus Mus mengundurkan diri: “ …mungkin
saya bisa melihat ketimpangan-ketimpangan dan kesalahan-kesalahan, tetapi
apakah saya bisa ikut --tidak hanya memberi teguran namun—mencarikan solusi dan
pemecahan?’ (Asma et.al., 2005: 116).
Disiplin dalam
Melukis
Sewaku kuliah di Al Azhar (Cairo), Gus Mus dikenal sebagai atlet bulu
tangkis dan sepak bola yang andal. Selain bulu tangkis dan sepak bola, melukis
dan menulis adalah kegemaran Gus Mus sejak muda. Kenang Gus Mus, “...saya itu
kalau ngaji, kitabnya suka saya gambari. Ketahuan
ayah saya, tapi malah saya diajak ke perkampungan para pelukis di Sokaraja iyu.
“(Rahardjo, 1997: 16). Gus Mus juga bercerita tentang guru melukisnya yang lain:
“...ada peluksi keliling, dia gambar wajah orang pakai kertas dan konte. Dia
itu kakinya lumpuh. Sayalah yang mendorongnya keliling kota Rembang ini...
hanya saking tertariknya saja. Saya ingin melihat dia melukis. Itulah antara
lain cara saya belajar. Jadi saya tidak belajar secara khusus.” (idem). Sewaktu
menjadi santri di Krapyak, Gus Mus sering jalan-jalan ke rumah-rumah seniman
Yogya. Salah satunya rumah Affandi (Asma, et.al., 2005: 49). Sampai
ketika Affandi ke Mesir, Gus Mus selalu “nempel’ Affandi (Rahardjo, 1997:16).
Mengapa ia sampai kini melukis, Gus Mus menyatakan:
“Saya punya kebiasaan, kalau ada dorongan dari dalam itu, kalau tidak saya
tuangkan dalam tulisan atau oret-oretan, rasanya masih seperti ada ganjalan.”
(idem: 15) “Apa yang saya lakukan itu merupakan dorongan dari dalam. Baik
menulis maupun melukis, itu dorongan dari dalam yang tidak bisa dibendung,
bahkan oleh saya sendiri. Karena sakit kalau tidak saya tuangkan (idem: 24)”.
Gus Mus kini mantan perokok menjadi inovator sebagai
pelukis pertama di atas amplop surat dengan memanfaatkan klelet (residu rokok) sebagai medium
lukisannya. Sejumlah lukisan klelet karyanya itu digelar dalam sebuah
pameran tunggal bertajuk “99 Lukisan Amplop” di Gedung Pameran Senirupa
Depdikbud Jakarta (1997). Dirjen Depdikbud RI pada waktu itu, Edi Setyawati, mengapresiasi Gus Mus sebagai ‘manusia
pelaku perubahan yang mewarisi gagasan-gaasan modernisasi dalam bidang
kesenian’ (idem: 7). Lukisan amplop Gus Mus menurut Edi Sdyawati merupakan
‘karya-karya seni rupa yang spesifik, baik bentuk, teknik, maupun pemaknaannya’
(idem). Mantan Mendikbud RI Fuad
Hassan dalam sambutannya saat
membuka pameran, menyatakan bahwa karya Gus Mus itu ‘sangat unik, bukan saja
karena ciptaseni seorang Kiai, juga karena karyanya pantas dianggap tunggal
dalam wujud dan gayanya” (idem: 8).
Dan lagi-lagi, konsistensi itu bisa dirasakan di sini.
Tidak hanya dalam aktivitas politik dan kreativitas dalam sastra, dalam seni
rupa pun, Gus Mus agaknya sulit dipisahkan dari disiplin spiritualnya. Menurut
kurator seni rupa dan salah seorang pelopor seni Jim Supangkat (Tempo Edisi Khusus Tahun 2000: 178), karya
Gus Mus berbeda dengan ‘sebagian besar kaligrafi yang terkesan tulisan yang
diindah-indahkan’ (idem: 49). Apa yang dikatakan Jim senada dengan pernyataan
Fuad: “Kekayaan Gus Mus tampak melalui kesederhanaan yang memnuhi estetika,
bukan melalui kemubadziran yang sifatnya kosmetika belaka.” (idem: 9). Lebih
lanjut Jim menyatakan bahwa ‘kekuatan ekspresinya terdapat pada garis grafis’,
‘kesannya ritnuk menuju dzikir’. Ini senafas dengan ungkapan pelukis dan
cerpenis Danarto, yang menyatakan bahwa karya Gus Mus
cenderung kepada ‘cara-cara i’tikaf yang memadai’ dalam mengarungi
kehidupan ‘yang semakin hari semakin ganas’ (idem: 46). I’tikaf adalah cara
beribadah dengan berdiam diri di masjid, menjauhkan pikiran dari keduniaan
untuk mendekatkan diri kepada Tuhan (Alwi, 2003: 422).
Hingga kini lukisan karya Gus Mus mencapai bilangan
ratusan dan bisa disaksikan publik dalam berbagai pameran lukisan. Sebuah
lukisannya yang pernah mengundang kontroversi berjudul “Berdzikir Bersama
Inul”, dipamerkan bersama karya Djoko
Pekik, Danarto dan kawan-kawan di
Surabaya (2003).
Ketika diselenggarakan Pameran Post-Kaligrafi “Kalam dan Peradaban”
di Jogja Gallery (2007), Arrahmaiani
–seorang penulis dan perupa—mencatat lukisan Gus Mus berjudul “Institusi”
(2007) menarik untuk direnungkan. Lukisan itu menurutnya mempersoalkan
‘kecenderungan orientasi vertikal yang kemudian diinstitusikan’, yang
menyebabkan manusia lupa adb karena kerancuan antara penghayatan ketuhanan dan
nafsu (Arrahmaiani, 2007:29 kolom 4). Saat ini Gus Mus sedang menyelesaikan
serial 30 lukisan yang ditajukinya “Lukisan Malam”.
3. Pendidikan
-
SR 6 tahun (Rembang, 1950-1956),
-
Pesantren Lirboyo (kediri, 1956-1958),
-
Pesantren Krapyak (Yogyakarta, 1958-1962),
-
Pesantren Taman Pelajar Islam (Rembang,
1962-1964).
-
Universitas Al Azhar Cairo (Mesir, 1964-1970) Studi Islam dan Bahasa Arab
4. Karya-Karya
a. Kumpulan Puisi
-
Ohoi, Kumpulan Puisi Balsem (Cet. I Stensilan
1988; Cet. II P3M Jakarta 1990; Cet. III 1991, Pustaka Firdaus, Jakarta);
-
Tadarus (Cet. Pertama 1993 Prima Pustaka,
Jogjakarta);
-
Pahlawan dan Tikus (Cet. I 1995, Pustaka
Firdaus, Jakarta);
-
Rubaiyat Angin & Rumput (Diterbitkan atas
kerja sama Majalah Humor dan PT Matra Multi Media, Jakart, Tanpa Tahun);
-
Wekwekwek (Cet. I 1996 Risalah Gusti, Surabaya);
-
Gelap Berlapis-lapis (Fatma Press, Jakarta,
Tanpa tahun);
-
Negeri Daging (Cet. I. September 2002, Bentang,
Jogjakarta);
-
Gandrung, Sajak-sajak Cinta (Cet.I Yayasan Al-Ibriz
2000, cet. II, 2007 MataAir Publishing, Surabaya)
-
Aku Manusia (MataAir Publishing, 2007, Surabaya)
-
Syi’iran Asmaul Husnaa (Cet. II MataAir
Publishing, 2007, Surabaya)
-
Membuka Pintu Langit (Penerbit Buku Kompas,
Jakarta November 2007)
b. Buku-Buku
-
Dasar-dasar Islam (terjemahan, Abdillah Putra
Kendal, 1401 H);
-
Ensklopedi Ijma’ (terjemahan bersama KH. M.A.
Sahal Mahfudh, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1987);
-
Nyamuk-Nyamuk Perkasa dan Awas, Manusia (gubahan
cerita anak-anak, Gaya Favorit Press Jakarta, 1979);
-
Kimiya-us Sa’aadah (terjemahan bahasa Jawa,
Assegaf Surabaya);
-
Syair Asmaul Husna (bahasa Jawa, Penerbit
Al-Huda Temanggung);
-
Ohoi, Kumpulan Puisi Balsem (Pustaka Firdaus,
Jakarta, 1991,1994);
-
Tadarus, Antalogi Puisi (Prima Pustaka Yogya,
1993);
-
Mutiara-Mutiara Benjol (Lembaga Studi Filsafat
Islam Yogya, 1994);
-
Rubaiyat Angin dan Rumput (Majalah Humor dan PT.
Matra Media, Cetakan II, Jakarta, 1995);
-
Pahlawan dan Tikus (kumpulan puisi, Pustaka
Firdaus, Jakarta, 1996);
-
Mahakiai Hasyim Asy’ari (terjemahan, Kurnia
Kalam Semesta Yogya, 1996);
-
Metode Tasawuf Al-Ghazali (tejemahan dan
komentar, Pelita Dunia Surabaya, 1996);
-
Saleh Ritual Saleh Sosial (Mizan, Bandung,
Cetakan II, September 1995);
-
Pesan Islam Sehari-hari (Risalah Gusti,
Surabaya, 1997);
-
Al-Muna (Syair Asmaul Husna, Bahasa Jawa,
Yayasan Pendidikan Al-Ibriz, Rembang, 1997);
-
Fikih Keseharian (Yayasan Pendidikan Al-Ibriz,
Rembang, bersama Penerbit Al-Miftah, Surabaya, Juli 1997)
a.
Presiden Joko Widodo atas nama negara memberikan Tanda
Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma kepada dedikasi Gus Mus di Jakarta, 13
Agustus 2015.
b.
Provinsi
Jawa Tengah memberikan penghargaan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jateng
Award 2017 kepada KH Mustofa Bisri (Gus Mus) sebagai tokoh keberagaman.
c.
Sebagai cerpenis, Gus Mus menerima penghargaan
“Anugerah Sastra Asia” dari
Majelis Sastra (Mastera, Malaysia, 2005).
6. Aktivitas di Bidang Seni
a.
Aktif sebagai penyair
b.
Aktif sebagai pelukis
7. Perhatian terhadap Seni
Gus Mus memberikan perhatian yang lebih dalam bidang seni. Ia aktif dalam
seni lukis dan seni sastra. Menurutnya seni diperuntukkan untuk manusia, bukan
untuk seni itu sendiri (art to art). Seni
akan memperkaya batin manusia. Sementara itu, paham bahwa seni untuk seni yang
berkembang di barat dianggapnya kebablasan. Pembahasan selanjutnya akan dikupas
dalam bagian “Konsep Penyair tentang
Karya Sastra”.
B. Konsep Penyair tentang Karya Sastra
Sebagaimana telah dipaparkan di atas bahwa seni sastra merupakan salah
satu cabang seni yang ditekuni oleh Gus Mus, terutama puisi. Beliau beranggapan
bahwa karya sastra sebagai salah satu bentuk seni diperuntukkan untuk manusia,
bukan untuk seni itu sendiri. Beliau secara terang dan tegas menolak pandangan art for art. Pandangan art for art yang berkembang di barat ini
dianggapnya kebablasan, karena konsepnya yang kelewat batas. Menurut pandangan
ini, karya sastra tidak dibatasi oleh batas politik, agama, dan daerah.
Artinya, karya sastra dapat menembus batas-batas territorial, seperti bidang
agama, politik, bahkan ekonomi global. Sementara itu, Gus Mus beranggapan bahwa
kebebasan manusia tidak seperti itu; masih terbatas, dan yang membatasinya
adalah Allah. Hal ini beliau sampaikan ketika diwawancarai oleh reporter Harian
Umum Pikiran Rakyat pada tahun 2004 silam. Dalam wawancara tersebut beliau
menegaskan bahwa beliau menciptakan karya sastra adalah untuk manusia. Karya
sastra dapat memperkaya batin manusia dan seterusnya. Selanjutnya, beliau juga
menambahkan bahwa dalam fenomena sufisme, tujuan penciptaan karya sastra juga
akan berbeda. Karya sastra dalam pandangan kaum sufi adalah diperuntukkan untuk
Tuhan. Pendekatan utama dalam sufi adalah keindahan dan cinta. Jadi, apapun
yang diekspresikan itu adalah untuk Allah. Sementara itu, bagi Gus Mus (dengan sikap merendah) tetap
beranggapan bahwa karya sastra adalah untuk manusia. Manusia itulah yang untuk
Allah.
C. Tahapan Penyair dalam Menulis Karya Sastra
1.
Perenungan (untuk menemukan inspirasi),
terkadang juga melalui observasi kehidupan social masyarakat
2.
Pengendapan inspirasi
3.
Menulis karya
4.
Mereview karya (termasuk editing)
5.
Publikasi karya
D. Kelebihan dari Karya yang Dibuat
1.
Karakteristik karya-karya yang dibuat oleh Gus
Mus lebih banyak memuat tentang agama dan kebudayaan.
2.
Keindahan kata-katanya yang mengalir mampu
menembus ruang sanubari sehingga mampu menyejukkan hati pembaca.
3.
Karya-karya Gus Mus yang diperdengarkan
merupakan wujud dakwah yang sempurna.
4.
Lewat keindahan kata-katanya dalam melukiskan
realita dalam kehidupan beragama, berbudaya, berbangsa, dan bernegara,
masyarakat yang membaca karya-karya Gus Mus seolah-olah bertemu langsung dengan
sang penulis dan mampu membuka pikiran si pembaca untuk memahami konteks
masalah yang diselesaikan Gus Mus lewat tulisannya.
5.
Karya-karya Gus Mus dianggap merupakan cara
dakwah yang efektif dan efisien di tengah suasana kehidupan bangsa yang sedang
krisis moral dan krisis kepercayaan.
6.
Karya-karya Gus Mus menyajikan kondisi riil masyarakat
Indonesia. Melalui kata-katanya yang khas, Gus Mus menyajikan hal tersebut ke
dalam suatu solusi yang positif dan aktif untuk mampu menyelami lebih dalam dan
mengambil langkah-langkah yang tepat.
